NIM : F1C111027
Prodi : Kimia
RADIKAL BEBAS
Pada proses metabolisme normal, tubuh memproduksi
partikel kecil dengan tenaga besar disebut sebagai radikal bebas. Atom atau
molekul dengan elektron bebas ini dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga dan
beberapa fungsi fisiologis seperti kemampuan untuk membunuh virus dan bakteri.
Namun oleh karena mempunyai tenaga yang sangat tinggi, zat ini juga dapat
merusak jaringan normal apabila jumlahnya terlalu banyak. Radikal bebas dapat
mengganggu produksi DNA, lapisan lipid pada dinding sel, mempengaruhi pembuluh
darah, dan produksi prostaglandin.1
Radikal bebas juga dijumpai pada lingkungan, beberapa logam (misalnya
besi, tembaga), asap rokok, polusi udara, obat, bahan beracun, makanan dalam
kemasan, bahan aditif, dan sinar ultraviolet dari matahari maupun radiasi.Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya. Merupakan juga suatu kelompok bahan kimia dengan reaksi jangka pendek yang memiliki satu atau lebih elektron bebas.
Gambar 1.
Struktur kimia radikal bebas
Radikal bebas dapat
terbentuk in-vivo dan in-vitro secara :
1.
Pemecahan satu molekul normal
secara homolitik menjadi dua. Proses ini jarang terjadi pada sistem biologi
karena memerlukan tenaga yang tinggi dari sinar ultraviolet, panas, dan radiasi
ion.
2.
Kehilangan satu elektron dari
molekul normal
3.
Penambahan elektron pada molekul
normal
Pada radikal bebas elektron yang tidak
berpasangan tidak mempengaruhi muatan elektrik dari molekulnya, dapat bermuatan
positif, negatif, atau netral.
Reaksi Kimia Radikal Bebas
Dalam reaksi kimia, radikal bebas
sering dituliskan sebagai titik yang ditempatkan pada simbol atom atau
molekul. Contoh penulisan radikal bebas berikut sebagai hasil dari
pemecahan homolitik:
Cl2 → Cl• + Cl•
Mekanisme reaksi radikal menggunakan panah bermata tunggal untuk menjelaskan pergerakan elektron tunggal :
Pemutusan homolitik pada pemecahan ikatan digambarkan dengan penarikan satu elektron. Hal ini digunakan untuk membedakan dengan pemutusan heterolitik yang menggunakan anak panah bermata ganda pada umumnya.
Radikal bebas juga memainkan peran terhadap adisi radikal dan substitusi radikal sebagai intermediet yang sangat reaktif. Reaksi rantai melibatkan radikal bebas yang biasanya dibagi menjadi tiga tahap, meliputi ;
- inisiasi,
- propagasi dan
- terminasi.
Inisiasi
Cl2 → Cl• + Cl•
Propagasi
Cl• + H:CH3 + 1 kkal/mol → H:Cl + •CH3
Radikal bebas metil juga sangat reaktif. Dalam tahap propagasi kedua, radikal bebas metil merebut sebuah atom klor dari dalam molekul Cl2.
Terminasi
Cl• + •CH3 → CH3Cl
Stabilitas radikal bebas
Radikal bebas mempunyai elektron yang tak berpasangan. Dengan demikian radikal bebas sangat reaktif terhadap senyawa lain atau terhadap jenisnya sendiri.
Walaunpun demikian, ada sejumlah radikal bebas yang mempunyai "umur"
yang panjang karena kestabilannya, yang dikategorikan sebagai berikut:
Ada juga contoh radikal tiazil, yang mana mempunyai reaktivitas yang rendah dan stabilitas termodinamika yang tinggi dengan stabilisasi resonansi π yang terbatas.
Radikal Stabil
Ada juga contoh radikal tiazil, yang mana mempunyai reaktivitas yang rendah dan stabilitas termodinamika yang tinggi dengan stabilisasi resonansi π yang terbatas.
Radikal Kokoh
Diradikal
Reaktivitas Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan senyawa yang terkenal sangat reaktif karena mempunyai elektron menyendiri atau tak berpasangan. Intermediet radikal alkil distbilkan oleh proses fisika yang hampir sama dengan karbokation. Semakin tinggi tingkat subsitusi alkil, maka stabilitas radikal alkil juga semakin tinggi. Dengan demikian, pembentukan radikal tersier (R3C·) lebih mudah daripada radikal sekunder (R2HC·), dan jauh lebih mudah daripada radikal primer (RH2C·). Maka radikal yang terletak di sisi gugus fungsi seperti karbonil, nitril, dan eter akan lebih stabil daripada radikal alkil tersier.Radikal dapat menyerang ikatan rangkap. Walaupun demikian, tidak seperti ion yang serupa, beberapa reaksi radikal tidak dilangsungkan oleh interaksi elektrostatik. Sebagai contoh, reaktivitas ion nukleofilik dengan senyawa α,β-tak jenuh (C=C–C=O) dilangsungkan oleh penarikan elektron oksigen, yang menghasilkan muatan positif parsial pada karbon karbonil. Ada dua buah reaksi yang teramati pada kasus ionik. Yang pertama karbonil diserang dalam adisi langsung pada karbonil atau gugus vinil diserang langsung dalam adisi konjugasi. Yang kedua, muatan nukleofil diambil oleh oksigen. Radikal mengadisi secara cepat ikatan rangkap, dan menghasilkan karbonil α-radikal yang relatif stabil.
Pada reaksi intramolekular, kendali yang tepat dapat dicapai untuk menghindari reaktivitas radikal yang ekstrim.
Pertanyaan
apakah radikal bebas dapat menyerang semua senyawa organik.,.,? jika iya, bagaimana cara untuk mencegah radikal bebas tersebut ?

menurut referensi yang saya dapat,
BalasHapusIstilah radikal sudah digunakan pada awal-awal dipelajari senyawa organik. Para ahli kimia menemukan gugusan yang terdiri dari karbon dan hidrogen terlihat mempunyai sifat yang sama seperti atom tunggal yang berdiri sendiri. Contohnya gugus methyl CH3 bisa bergabung dengan atom dari chlorine untuk membentuk methyl chlorine seperti bergabungnya natrium dan chlorine ketika membentuk NaCl. Gugus methyl ini dinamakan radikal methyl.
Mulanya, para ahli kimia mentertawakan konsep keberadaan radikal sebagai molekul yang berdiri sendiri. Akan tetapi penjelasan Hey dan Waters telah menunjukkan peran radikal bebas dalam reaksi senyawa kimia. Tak lama kemudian, nyatalah bahwa radikal itu bisa bereaksi dengan berbagai cara. Radikal-radikal itu sendiri dapat saling bereaksi satu sama lain, atau dapat bereaksi dengan molekul stabil lain untuk membentuk molekul baru atau radikal baru. Radikal baru itu kemudian bisa dengan bebas bereaksi dengan molekul lain lagi, sehingga terjadilah suatu reaksi berantai. Banyak reaksi kimia dalam pembuatan polimer, seperti polystyrene atau polymethyl methacrylate(plexiglas) terjadi karena reaksi berantai tadi. Senyawa–senyawa polimer tersebut biasanya mengandung ikatan ganda dari pasangan atom karbon karena ikatan ganda ini mudah dituju oleh radikal-radikal.
Radikal yang diperlukan untuk memulai suatu reaksi kimia bisa dihasilkan dari molekul yang memiliki gugus peroksida, karena ikatannya tidak begitu kuat dan mudah dipecah dengan pemanasan. Radikal tersebut (ditulis Y*) menempel pada molekul monomer vinyl untuk membentuk radikal baru, dan berpaut dengan molekul vinyl lain dan seterusnya membangun rantai polimer yang panjang secara bertahap (Gb.1). Terakhir, rantai-rantai radikal bisa bergabung satu sama lain, dan elektron yang tadinya tidak berpasangan menjadi berpasangan sehingga reaksi berantai ini akhirnya terhenti.
http://www.infometrik.com/wp-content/uploads/2011/03/001.jpg
Gb. 1 Proses pembuatan polimer dengan radikal bebas
kerusakan yang disebabkan oleh adanya radikal bebas dalam waktu yang lama akan dapat memicu penyakit kanker maupun penyakit degeratif lainnya. Untuk mencegah hal seperti ini, maka kita memerlukan antioksidan untuk dapat mengembalikan kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh adanya proses oksidasi hingga batas batas tertentu.
BalasHapusantioksidan terutama yang mengandung zat zat gizi seperti vitamin, mineral serta beberapa enzim yang dibutuhkan tubuh.
Pada prinsipnya, antioksidan memiliki fungsi untuk menghentikan proses oksidasi. Maka untuk alasan inilah tubuh kita sangat membutuhkan pasokan antioksidan secara terus menerus.
Antioksidan ini sering disebut agen antipenuaan, karena dapat membantu dalam menjaga kesehatan kulit agar dapat membantu dalam menjaga kesehatan kulit agar tetap tampak awet muda.
menurut saya radikal bebas dapat menyerang semua senyawa organik maupun anorganik, karena radikal bebas memiliki pasangan elektron terluar yang bebas, hal inilah yang menyebabkan radikal bebas bersifat reaktif dan tidak stabil, oleh sebab itu radikal bebas harus berikatan dengan senyawa lain agar dapat stabil. cara mencegahnya adalah dengan ANTIOKSIDAN yang terkandung dalam sayuran dan buah. antioksidan adalah zat yang mampu memperlambat atau mencegah proses oksidasi. Zat ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah. Antioksidan juga sesuai didefinisikan sebagai senyawa-senyawa yang melindungi sel dari efek berbahaya radikal-bebas oksigen reaktif jika berkaitan dengan penyakit, radikal bebas ini dapat berasal dari tubuh maupun faktor eksternal lainnya.
BalasHapus